Selasa, 14 Oktober 2025

Merchandising: Kunci Musisi Bertahan di Era Sekarang

 Raihan | Oct 15, 2025

Pasar Musik (Foto: Istimewa) 
Jakarta – Hingga saat ini Band Puppen dan beberapa band metal lainnya dapat bertahan di era sekarang karena Merchandising. Sejak era 1950–1960-an, praktik ini berkembang dari sekadar sarana promosi seperti yang dilakukan Elvis Presley dan The Beatles jadi simbol identitas bagi komunitas musik. Bagi band, merchandise bukan hanya berfungsi sebagai sumber penghasilan segar di tengah kurangnya keuntungan dari layanan streaming online, tetapi juga sebagai alat branding yang kuat membentuk citra visual dan konsistensi identitas mereka. Kaos, atau rilisan fisik bukan sekadar barang dagangan, tetapi representasi ideologi dan cara band berkomunikasi dengan penggemarnya. Bagi fans, merchandise menjadi bentuk keterikatan emosional yang memungkinkan mereka merasa memiliki bagian dari band yang mereka cintai, sekaligus menunjukkan jati diri, solidaritas, dan loyalitas terhadap komunitas musik tertentu. Dalam konteks budaya, merchandise berubah menjadi simbol status dan nostalgia, sekaligus menjadi media promosi organik yang membuat band terus dikenal. Karena itu, bagi band-band seperti Puppen, merchandise bukan hanya aspek ekonomi, tetapi juga strategi eksistensi yang menjaga hubungan antara musik, identitas, dan penggemarnya tetap hidup lintas generasi. Hal ini pun masih terasa hingga kini, terlihat dari antusiasme para penggemar musik yang menjadikan berburu merchandise sebagai bagian dari pengalaman menikmati konser. 

Ketika berkeliling di sekitaran booth Pasar Musik, Saya menemukan salah satu penggiat musik, saat Saya mewawancarai Wishnu yang hadir bersama teman-temannya ke JMC25. Wishnu menjawab “Tujuan Gue sama temen-temen dateng ke sini sih sebenernya pengen hunting tipis-tipis merch band aja, buat nambahin koleksi ya. Tadi juga Gue habis beli merch-nya Alkateri sama perintilan-perintilan aja sih. Oh ya, mau nonton performance band juga nanti malem bakalan ada dari Madmax sama Swellow,” ungkapnya. Pasar Musik yang lahir dari hasil kolaborasi JMC25 dengan Merch-making Market menjadi area “hunting” pengunjung yang selalu ramai dari transaksi pada setiap harinya. Beberapa tenant yang berpartisipasi pada sesi ini Antara Suara, Pophariini, Toko Gargantua, Gedung 4 Records, Teenage Death Store, BAALE, dan masih banyak lainnya. 

Dengan mengusung tema “Beyond Music: Time to Change”, Jakarta Music Con 2025 (JMC 2025) yang diselenggarakan pada 11 dan 12 Oktober 2025 di The Dome dan Outdoor Area, Senayan Park, Jakarta Pusat. Sukses menarik audiens dari berbagai kalangan. Acara yang dipersembahkan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) Republik Indonesia yang berkolaborasi dengan Antara Suara dan Kinnara ini menghadirkan Bisik Musik (talkshow), Pasar Musik (jualan merchandise), dan Panggung Musik (penampilan musik). Dalam sesi Bisik Musik yang berlokasi di dekat booth pintu masuk Pasar Musik menampilkan pembicara dari banyak Professional, Konten Kreator hingga Musisi yang menjadikan wadah untuk menceritakan pengalaman mereka di scene-musik seperti Sir Dandy, Vincent Rompies, Soleh Solihun, White Chorus, Sal Priadi dan Haris Franky. Menjelang malam, penampilan Madmax dan Swellow sebagai penutup membawakan set khas mereka dengan nuansa Alternative Rock, lagu-lagunya yang khas membuat para penggemar riang-gembira menikmati lantunan dari band tersebut.

Penulis: Raihan Nur Gunadi (2506321109)
Kelas    : Penerbitan 1C

2 komentar: