12 Oktober 2025
Di tengah kemacetan kota dan padatnya deretan pedagang kaki lima, Jalan Surya Kencana berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang Kota Bogor. Kawasan ini bukan hanya pusat perdagangan dan kuliner, tapi juga jejak hidup komunitas Tionghoa yang telah membaur sejak ratusan tahun lalu.
Jalan Surya Kencana, yang dulu dikenal sebagai Kampung Cina, merupakan permukiman komunitas Tionghoa tertua di Kota Bogor. Kehadiran mereka sudah tercatat sejak abad ke-17, pada masa kolonial Belanda, ketika komunitas pedagang ini membangun jaringan ekonomi yang kuat. Jalan ini menjadi urat nadi distribusi barang dan kebutuhan pokok warga.
![]() |
| Arsitektur kolonial khas Cina-Peranakan masih terlihat di beberapa bangunan tua di Surya Kencana. |
Kehidupan Sosial dan Ekonomi Rakyat
Aktivitas jual beli barang bekas dan berbagai kebutuhan sehari-hari masih menjadi pemandangan
sehari-hari di Surya Kencana. Warga menjajakan barang-barang mulai dari koper tua, mainan, hingga
alat rumah tangga, yang menggambarkan denyut ekonomi kecil yang sudah berlangsung turun
temurun.
![]() |
| Jual beli barang bekas masih menjadi mata pencaharian warga sekitar Surya Kencana. |
Warisan yang Pudar atau Bertahan?
Meski banyak bangunan tua mulai mengalami kerusakan dan cat mengelupas, beberapa masih
bertahan dengan fungsi baru. Contohnya Toko TIGA yang ikonik, yang kini berdampingan dengan
kedai kopi modern — menandai benturan antara masa lalu dan masa kini di kawasan ini.
![]() |
| Bangunan Toko TIGA yang ikonik, kini menyatu dengan kedai kopi modern — menandai benturan antara masa lalu dan masa kini. |
Penutup
Surya Kencana bukan hanya soal kuliner atau belanja. Ia adalah potongan sejarah hidup kota Bogor
yang terus berjalan. Menjaga kawasan ini sama artinya dengan menjaga identitas kota dan kisah
masyarakat yang membangunnya dari masa ke masa.
Penulis: Putra Maulana (2506321066)
Kelas : Penerbitan 1C



Tidak ada komentar:
Posting Komentar