Bagi Ibu Anastasia Elly Agustina, atau yang akrab disapa Bu Elly, doa Rosario bukan sekadar
ritual agama, tetapi sebuah napas dalam keseharian. Sebuah warisan iman yang telah menjelma
menjadi kekuatan personal.
Setiap orang pasti memiliki momen di mana Rosario terasa sangat hidup dan personal. Bagi Bu
Elly, momen itu justru hadir di puncak kesibukannya.
"Ada, suatu masa di mana banyak kegiatan kampus dan gereja," kenang Bu Elly. Saat itu, kondisi
badan dan pikiran berada dalam titik lelah, dengan otak yang terasa penuh. Namun, di saat yang
sama, datanglah tugas untuk melatih 61 anak-anak BIA (Bina Iman Anak) membuat "Rosario
Hidup" dan melatih mereka yang masih duduk di bangku SD kelas 1 hingga 6.
"Justru saat itulah campur tangan Bunda Maria begitu besar," tuturnya dengan penuh keyakinan.
Tantangan yang awalnya terasa berat seperti gunung, berubah menjadi pengalaman yang ringan
dan lancar tanpa kendala. Momen ini menjadi bukti baginya bahwa kasih dan bantuan Ilahi
sering kali datang tepat pada waktunya, mengubah keletihan menjadi sebuah anugerah.
Lalu, bagaimana cara Bu Elly menyisipkan waktu untuk merangkai butir-butir doa Rosario di
tengah kesibukan yang tak kenal henti? Jawabannya sederhana namun penuh komitmen.
"Sebisa mungkin di tiap hari Jumat siang, atau pas di jalan," ujarnya.
Kebiasaan ini menggambarkan sebuah usaha untuk menguduskan waktu-waktu biasa. Bagi Bu
Elly, doa tidak harus selalu dilakukan di tempat yang hening dan waktu yang panjang, tetapi bisa
menyelinap di sela-sela aktivitas, mengubah waktu perjalanan atau jeda istirahat menjadi momen
sakral untuk menyapa Tuhan dan Bunda Maria.
Jika harus meringkas arti Rosario dalam satu kalimat, Bu Elly menemukan frasa yang dalam dan
penuh makna.
"Rosario adalah separuh nafas hidupku."
Kalimat tersebut bukanlah metafora yang berlebihan. Ia menggambarkan sebuah relasi yang
begitu intim dan vital. Seperti halnya nafas yang menandai kehidupan, Rosario baginya adalah
elemen esensial yang menghidupkan jiwa, memberikan kedamaian, dan menjadi sumber
kekuatan yang tak terpisahkan dari eksistensinya sehari-hari. Dalam kesederhanaan doa yang
diulang-ulang, Bu Elly menemukan sebuah kehidupan yang mengalir penuh makna.
Penulis: Patricia Amanda Dewi (2506321060)
Kelas : Penerbitan 1C

Tidak ada komentar:
Posting Komentar